Kalahkan Kopi Luwak, Inilah Kopi Jacu Yang Harganya Bikin Geleng Kepala

Apakah anda suka meminum kopi? Berapa kali anda meminum kopi dalam sehari? Kopi jenis apakah yang paling anda sukai? Untuk pertanyaan di atas, jawaban tiap-tiap orang pasti akan sangat beragam atau berbeda, mengingat banyaknya jenis kopi yang ada saat ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada zaman sekarang ini, kopi adalah salah satu jenis minuman yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Tidak hanya populer di kalangan para pria saja, minuman yang satu ini bahkan sepertinya sudah menjadi trend di kalangan anak muda di seluruh dunia.

Jadi bukan di Indonesia saja, ya guys minuman kopi ini populer. Di beberapa negara lainnya, kopi juga menjadi salah satu minuman yang paling digemari oleh masyarakatnya. Sanking populernya minuman ini, Jepang bahkan membuatkan “hari kopi resmi“, yang diperingati setiap tanggal 1 oktober.

Kalau di Indonesia sendiri, tidak ada hari spesial yang memang sengaja dibuat untuk merayakan pengkonsumsian kopi seperti halnya di Jepang. Yah, mungkin karena meminum kopi di Indonesia sudah dianggap sebagai hal yang biasa oleh pemerintahnya. Jadi kapan saja masyarakatnya mau, mereka bebas untuk menikmati atau meminum kopi.

Dari sekian banyaknya jenis kopi yang ada di Indonesia, salah satu kopi yang paling dikenal dan banyak diminati oleh masyarakat adalah kopi luwak. Kopi luwak ini termasuk kopi legendaris yang ada di Indonesia. Untuk rasa, kopi luwak tidak perlu diragukan lagi. Jangankan orang dari negara sendiri, orang luar saja pun mengakui kelezatan kopi asli Indonesia ini.

Nah, untuk kopi legendaris yang satu ini, pasti anda sudah tidak asing lagi, bukan? Pasti pernahkan minum kopi luwak? Untuk anda yang mungkin tidak suka dengan kopi, kenapa tidak coba minum kopi luwak saja? Pasti anda akan langsung ketagihan saat pertama kali meminumnya.

Kopi Jacu Asal Brasil

‘Lain Lubuk, Lain Ikannya’, ‘Lain di Indonesia, lain juga di tempat-tempat lainnya’. Begitu pula halnya dengan minuman yang bernama kopi ini. Masing-masing negara memiliki jenis kopinya masing-masing. Kalau Indonesia punya luwak kopi, maka Brasil punya Jacu Coffee atau Kopi Jacu. 

Jika anda ingin mencoba rasa kopi yang lebih unik, maka Kopi Jacu ini adalah alternatif yang paling tepat. Soal rasa, sifatnya memang subjektif, karena masing-masing orang punya penilaian sendiri mengenai rasa tersebut. Bisa saja anda suka dengan rasa itu, tapi orang lain mungkin tidak. Tapi yang terpenting adalah anda sudah pernah mencobanya.

Kalau kopi luwak dihasilkan dari hewan yang bernama luwak (musang), kopi asal brasil ini berasal dari burung yang bernama jacu. Burung Jacu adalah salah satu jenis burung asal Brasil yang jumlahnya tidak banyak lagi  alias hampir punah dan merupakan pemakan yang rewel atau pemilih. Untuk makanannya, burung jacu ini hanya memilih memakan biji kopi yang paling lezat.

Seperti namanya, Kopi Jacu ini dibuat dari kotoran burung Jacu yang diolah dan dipanggang sampai akhirnya menghasilkan kopi dengan rasa yang paling lezat, unik dan paling banyak diminati oleh masyarakat. Untuk bisa mendapatkan Kopi Jacu ini bukanlah perkara yang mudah, baik untuk petani maupun konsumennya.

Dalam satu tahun, kopi jacu ini hanya diproduksi sebanyak tiga ratus kilo. Dan yang membuat kopi ini berbeda dari kopi-kopi lain pada umumnya adalah karena harganya yang sangat tinggi. 

Awal Mula Pembuatan Jacu Coffee atau Kopi Jacu

Kopi Jacu ini diproduksi di perkebunan Espirito Santo, Pedra Azul. Kopi istimewa ini ditemukan oleh seseorang yang bernama Henrique Sloper. Menurut Henrique, ide untuk menciptakan kopi Jacu ini terinspirasi setelah Ia mencicipi kopi luwak saat berada atau tinggal di Indonesia.

Suatu hari, Henrique mendapati tanah perkebunan kopi camocimnya diserbu oleh kawanan burung jacu. Buah kopi yang ada di lahan miliknya habis dimakan oleh burung-burung yang terancam punah tersebut. Padahal biasanya burung jacu ini tidak pernah memakan buah kopi, lho guys.

Entah apa yang membuat burung ini sangat tertarik untuk memakan buah kopi milik Henrique. Padahal tetangganya juga memiliki lahan buah kopi seperti dirinya, tapi mengapa burung-burung ini malah menyerbu buah kopi miliknya saja, sedangkan lahan milik para tetangganya tidak? Itulah yang menjadi misterinya. Singkat cerita, sejak kejadian itulah Henrique merasa impiannya untuk memanen kopi camocim dalam jumlah besar mulai pupus.

Dengan keadaan putus asa, Henrique hanya bisa menelepon polisi lingkungan yang nyatanya pun tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali, karena yang menyebabkan kerusakan pada lahan kopinya bukan manusia, melainkan hewan.

Kan nggak lucu banget kan kalau polisi tersebut memenjarakan burung-burung jacu yang telah memakan dan merusak lahan kopi milik Hemrique tersebut? heheLagian Henrique juga sama sekali tidak berniat untuk membunuh burung-burung langka yang bernama jacu tersebut.

Kemudian secara mendadak Henrique teringat pada proses pembuatan kopi luwak yang pernah dilihatnya di Indonesia. Dia mulai berpikir bahwa ada kemungkinan bahwa burung jacu ini juga bisa menghasilkan kopi yang berkualitas seperti yang dilakukan oleh luwak yang ada di Indonesia.

Ia pun mulai menggunakan teknik pertanian biodinamik, yang diperkenalkan oleh filsuf Jerman Rudolph Steiner pada tahun 1920-an dan mulai mengolah lahan buah kopinya dengan cara sealami mungkin.

Langkah selanjutnya adalah, lahan tersebut disuburkan dengan pupuk kandang dari kotoran sapi dan pupuk kompos dari kandung kemih rusa. Lahan yang organik ini kemudian berhasil menarik burung jacu untuk berdatangan dan menyantap buah kopi yang ditanamnya di lahan tersebut.

Dari dalam rumah henrique terus mengamati aktifitas burung-burung jacu yang mulai berdatangan ke lahan kopi miliknya. Dia memperhatikan dan menonton burung-burang langka yang sedang asyik menyantap buah kopinya tersebut. Dia merasa sangat heran saat mengetahui bahwa ternyata burung jacu hanya memakan buah kopi yang paling matang dan kemudian menyisakan separuhnya.

Setelah sebagian dari buah kopi tersebut dicerna dan sebagiannya lagi dibuang dalam bentuk kotoran, sisa buah kopi kemudian dipunguti oleh para pekerja Henrique. Setelah dicuci dan dipisahkan dari kotoran, selanjutnya biji kopi akan diolah seperti halnya pengolahan yang dilakukan untuk menghasilkan kopi luwak.

Untuk rasa kopi ini sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dengan kopi luwak. Hanya saja, rasa kopi jacu ini jauh lebih unik. Kopi Camocim yang diolah dari kotoran burung Jacu tersebut terasa seperti kacang dengan nuansa rasa yang manis. Uniknya lagi, kopi yang dihasilkan tidak pernah memiliki rasa yang sama. Ada yang mengatakan rasa yang dihasilkan agak pedas dan manis. Namun, ada juga yang menjelaskan bahwa kopi ini memiliki rasa kuat yang kompleks.

Meskipun proses eksekusi pembuatan kopi melalui hewan ini sudah ada patokannya, namun tetap saja proses pencucian, pengeringan, penyeduhan, serta racikan barista, menjadi faktor penentu lain dari rasa yang tertuang dalam secangkir kopi jacu tersebut.

Harga Kopi Jacu

Kalau tadi bicara tentang rasa, kini saatnya anda mengetahui harga dari kopi jacu ini. Seperti sebuah slogan yang mengatakan, ‘ada harga, ada kualitas’, maka begitu jugalah yang berlaku pada kopi jacu asal brasil ini. Bisakah anda menebak berapa harga jenis kopi yang unik ini?

Satu kantong kopi jacu dengan berat 60 kilogram ini dibanderol dengan harga $ 3.250 di pasar luar negeri. Harga ini setara dengan sekitar Rp. 43 jutaan jika dirupiahkan. Padahal untuk kopi camocim organik yang biasa hanya dihargai dengan $ 450 atau sama dengan Rp. 6 jutaan, sementara kopi Brasil dengan kualitas premium bisa didapatkan dengan harga $ 200 atau Rp. 2,6 jutaan saja.

Harga yang cukup fantastis, bukan? Hanya untuk mendapatkan kopi yang berasal dari kotoran hewan, anda harus rela merogoh kocek sebesar puluhan juta rupiah. Tertarikkah anda untuk membeli dan mencoba kopi unik ini, guys? Kalau anda tertarik, siapin dulu koceknya ya, guys.